Anak-anak Belajar Mikrokontroler?

Dua puluh tahun lalu, pembelajar mikrokontroler umumnya mahasiswa tingkat akhir. Sepuluh tahun lalu, mungkin mahasiswa tingkat awal sudah mulai mempelajarinya. Saat ini, mikrokontroler bak mainan, anak SMP dan SMA sudah mulai ngoprek. Ini dikarenakan munculnya bahasa pemrograman yang lebih manusiawi, serta sejumlah modul pelengkap yang siap pakai. Kegiatan solder menyolder pun menjadi sangat minimal. Dengan demikian, mereka yang alergi dengan elektronika, bisa mempelajari mikrokontroler dengan lebih nyaman. Jadi, pembelajaran mikrokontroler saat ini sudah berada pada posisi yang relatif netral (tidak ada prasyarat pendidikan tertentu), sama halnya dengan belajar pemrograman pada komputer personal.

Dengan kemajuan seperti saat ini, idealnya, mikrokontroler sudah diperkenalkan di level SD, dalam bentuk aplikasi yang sesuai dengan dunianya, misalnya robot. Dengan beragam aplikasi berbasis mikrokontroler yang dapat dikembangkan, rasa ingin tahu anak akan muncul dan berkembang.

Untuk anak usia 10 tahun (SD kelas 5), bisa diperkenalkan pemrograman mikrokontroler berbasis grafis. Untuk usia yang lebih besar, 14 tahun (SMP kelas 8), bisa diperkenalkan pemrograman berbasis teks dengan Bahasa BASIC. Sementara untuk yang lebih besar lagi, 16 tahun (SMA kelas 2), bisa memulai pemrograman berbasis teks dengan Bahasa C. Untuk konteks tertentu, misalnya aplikasi robotika, Bahasa C bisa diperkenalkan sejak SMP kelas 8. Mempelajari Bahasa C dalam konteks robotika (real world), berbeda dengan mempelajari Bahasa C dalam komputer personal (abstrak). Dari pengalaman, saat disajikan menu yang sesuai, anak-anak cukup menikmatinya 🙂

Anak SD, SMP dan SMA, belajar mikrokontroler? Siapa takut!

Untuk informasi lebih lanjut dan konsultasi, silahkan menghubungi:

NEXT SYSTEM
Robotics Learning Center
ITC Kosambi F2
Jl. Baranang Siang 6-8
Bandung 40112
Tel. (022) 4222062

http://www.nextsys.web.id
emai: info@nextsys.web.id