Asyiknya Mengutak-Atik Robot

<span style=”color:red”>Dessy Rosalina – <a href=”http://weekend.kontan.co.id/index.php/read/xml/komunitas/3265/asyiknya-mengutak-atik-robot”>KONTAN Weekend</a>
Sabtu, 22 Agustus 2009</span>

<strong>Dari Hobi Jadi Prestasi</strong>

Lain lagi dengan <span style=”color:blue”>Christianto Tjahyadi</span>. Pria ini berkenalan dengan hobi robotik sejak 2004. “Waktu itu saya tidak sengaja menemukan situs mikrokontroler yang merupakan pengendali atau otak pada robot,” kenang Christianto.

Lulusan teknik elektro ini lantas tertarik mencari tahu lebih dalam mengenai otak robot. Pada 2006, Christianto menjajal pembangunan robot berbentuk mobil. Begitu berhasil, ia pun semakin keranjingan.

Seperti Agus, Christianto juga bisa hanyut hingga 5 jam saat mengutak-atik robot. “Bisa karena asyik corat-coret di atas kertas atau bikin program di komputer,” ujar Christianto.

Di Indonesia, memang baru segelintir orang yang tertarik dengan hobi robotik. “Karena hobi ini masih dianggap mahal. Kebanyakan orang yang hobi ini nantinya terjun ke riset pendidikan,” ungkap Agus.

Lantaran komponen robotik yang mahal, keduanya memang mengungkap sejauh ini para pehobi robotik melanjutkan hobi mereka lewat pekerjaan.

<img style=”margin: 5px 10px;” title=”searo092″ src=”http://nextsys.web.id/edukasi/wp-content/uploads/2009/08/searo092.jpg” alt=”searo092″ width=”167″ height=”161″ />Misalnya saja Christianto yang kini menjadi Managing Director <span style=”color:red”>Next System Robotics</span>, sebuah pelatihan robotik. Adapun Agus kini melakoni profesi sebagai dosen tetap Teknik Komputer, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung.

Dari hobi, mereka berhasil mengukir prestasi. Agus misalnya, pernah menjadi juara 1 Kontes Robot Cerdas Pemadam Api pada 2007, juara 1 Kontes Robot Cerdas Indonesia 2008 dan 2009. “Gara-gara hobi jadi senang juga karena setelah menang bisa ketemu presiden,” tuturnya.

Christianto juga tak mau kalah, ia dan tim binaan <span style=”color:red”>Next System Robotics</span> menyabet segudang penghargaan robotik semisal medali perak South East Asia Robotics Olympiad, Solo pada 2009.

Ada satu keinginan mereka, yaitu membentuk komunitas sebagai sarana diskusi dan silahturahmi.

Untuk menyiasati hobi robotik mahal, Christianto mengaku kerap menggunakan komponen bekas. “Saya biasanya mengambil dari komponen mainan anak-anak semisal motor dan roda yang nanti ditambah mikrokontroler,” ujar Christianto.